Banyuwangi – SMK Nurul Abror Al-Robbaniyin tidak hanya menjadi tempat bagi peserta didik untuk menimba ilmu pengetahuan dan mengembangkan keterampilan kejuruan, tetapi juga menjadi lingkungan pembentukan karakter yang berlandaskan nilai-nilai kepesantrenan. Melalui rutinitas sehari-hari, para santri dibiasakan untuk menerapkan sikap disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab dalam setiap aspek kehidupan.
Kehidupan santri memiliki
keunikan tersendiri. Di tengah padatnya kegiatan belajar dan aktivitas
pesantren, para santri dituntut untuk mampu mengatur waktu, menjaga
kedisiplinan, serta melaksanakan berbagai kewajiban dengan penuh tanggung
jawab. Kebiasaan sederhana inilah yang menjadi bagian penting dalam proses
pembentukan karakter peserta didik.
Kehidupan santri di lingkungan
Pondok Pesantren Nurul Abror Al-Robbaniyin dimulai sejak dini hari. Tepat pukul
03.00 WIB, para santri sudah dibiasakan bangun untuk mempersiapkan diri
melaksanakan salat Subuh berjamaah. Setelah menunaikan salat, kegiatan dilanjutkan
dengan zikir bersama hingga menjelang pagi. Rutinitas tersebut kemudian
disambung dengan kajian keagamaan bersama pengasuh pesantren dan majelis
keluarga. Usai mengikuti kajian, para santri melaksanakan salat Duha berjamaah
sebelum mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah, mulai dari mandi, sarapan,
hingga menyiapkan perlengkapan belajar.
Sekitar pukul 07.15 WIB, seluruh
santri yang menempuh pendidikan formal, mulai dari jenjang SMP hingga SMK,
diwajibkan berangkat menuju sekolah masing-masing. Khusus di SMK Nurul Abror
Al-Robbaniyin, kegiatan belajar mengajar dimulai pada pukul 07.30 WIB, diawali
dengan jam pelajaran pertama dan dilanjutkan dengan mata pelajaran berikutnya
sesuai jadwal yang telah ditentukan. Setelah menyelesaikan pembelajaran di
sekolah, para santri kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar di lingkungan
pondok pesantren.
Gambaran rutinitas tersebut
disampaikan oleh Ahmad Musleh Alansyah, siswa kelas XII A PPLG SMK Nurul
Abror Al-Robbaniyin, dalam sesi wawancara mengenai kehidupan sehari-hari
sebagai seorang santri. Padatnya aktivitas dari dini hari hingga kegiatan
belajar di pesantren menjadi bagian dari proses pembiasaan untuk melatih
kedisiplinan, kemandirian, serta tanggung jawab dalam mengatur waktu. Melalui
rutinitas tersebut, para santri tidak hanya mendapatkan pendidikan akademik dan
keagamaan, tetapi juga belajar menghargai setiap waktu dan menjalankan
kewajiban dengan penuh kesadaran.
Di tengah padatnya rutinitas
sebagai seorang santri, tentu terdapat pengalaman yang meninggalkan kesan
mendalam. Hal tersebut juga dirasakan oleh Ahmad Musleh Alansyah, siswa
kelas XII A PPLG SMK Nurul Abror Al-Robbaniyin. Ketika ditanya mengenai
kegiatan yang paling berkesan selama menjalani kehidupan di pesantren, Ahmad
mengungkapkan bahwa Kajian Ramadan menjadi salah satu kegiatan yang
paling berkesan baginya.
Menurutnya, Kajian Ramadan
merupakan kegiatan wajib yang diselenggarakan setiap tahun di lingkungan
pesantren. Hal yang menjadikan kegiatan tersebut menarik adalah kitab-kitab
yang dikaji selalu berganti dari tahun ke tahun. Dengan demikian, para santri memiliki
kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan wawasan keagamaan yang berbeda
setiap tahunnya.
Selain berbagi pengalaman
berkesan, Ahmad juga menceritakan bagaimana dirinya berusaha mempertahankan
kedisiplinan di tengah rutinitas yang padat. Ketika ditanya tentang cara
menjaga kedisiplinan saat merasa lelah atau kurang bersemangat, ia menjelaskan bahwa
target dan motivasi pribadi menjadi alasan utama yang mendorong dirinya
untuk tetap konsisten dalam menjalankan kewajiban sebagai santri.
Tidak hanya itu, Ahmad juga
mengaku memiliki sosok yang dijadikan sebagai panutan dan sumber motivasi
tersendiri. Baginya, memiliki tujuan yang ingin dicapai serta seseorang yang
dapat dijadikan inspirasi menjadi dorongan untuk terus berusaha, meskipun terkadang
harus menghadapi rasa lelah dan menurunnya semangat.
Pengalaman Ahmad menunjukkan
bahwa kedisiplinan bukan hanya tentang mengikuti aturan atau menjalankan
rutinitas, melainkan juga tentang memiliki tujuan, kemauan, dan motivasi yang
kuat dari dalam diri. Melalui kehidupan pesantren, para santri belajar bahwa
setiap tanggung jawab yang dijalankan dengan sungguh-sungguh merupakan bagian
dari proses menuju kedewasaan dan pembentukan karakter yang lebih baik.
Di balik semangatnya menjalani
rutinitas pesantren yang padat, Ahmad Musleh Alansyah memiliki pandangan
tersendiri mengenai pentingnya menuntut ilmu. Baginya, pendidikan bukan hanya
tentang menyelesaikan kewajiban belajar, melainkan juga tentang mempersiapkan
diri agar mampu menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan pengetahuan dan
pemahaman yang luas.
"Saya tidak ingin menjadi
orang yang kurang berpengetahuan dalam berbagai bidang sehingga menimbulkan
kebingungan dan kekeliruan keputusan dalam kehidupan sehari-hari," ungkap
Musleh.
Pernyataan tersebut mencerminkan
kesadaran Musleh bahwa ilmu pengetahuan memiliki peranan penting dalam
membentuk pola pikir dan menentukan langkah kehidupan. Keinginannya untuk terus
belajar menjadi salah satu motivasi yang mendorongnya tetap disiplin, meskipun
harus menjalani berbagai kegiatan sejak dini hari hingga malam.
Menjalani kehidupan sebagai
seorang santri bukan hanya tentang mengikuti aturan dan menyelesaikan rutinitas
sehari-hari, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu membentuk pola pikir
yang dewasa serta memiliki kesadaran terhadap tanggung jawab dalam kehidupan.
Hal inilah yang turut menjadi perhatian Ahmad Musleh Alansyah, siswa kelas
XII A PPLG SMK Nurul Abror Al-Robbaniyin.
Di akhir wawancara, Musleh
menyampaikan pesan kepada teman-teman santri agar senantiasa menjaga
kedisiplinan dan tanggung jawab, baik dalam menjalankan kewajiban di lingkungan
pesantren maupun dalam kehidupan sehari-hari.
"Sisihkan waktu untuk
berpikir terkait kehidupan di lingkup kekeluargaan, sosial, pendidikan, dan
masa depan," pesan Musleh.
Melalui pesan tersebut, Musleh
mengajak teman-temannya untuk tidak hanya berfokus pada rutinitas yang sedang
dijalani, tetapi juga meluangkan waktu untuk merenungkan berbagai aspek
kehidupan. Menurut pandangan yang tercermin dalam pesannya, kedisiplinan dan
tanggung jawab perlu diiringi dengan kesadaran akan pentingnya hubungan
keluarga, kehidupan sosial, pendidikan, serta perencanaan masa depan.
Pesan sederhana namun penuh makna
ini menjadi pengingat bahwa masa-masa menjadi santri merupakan kesempatan
berharga untuk membangun karakter, memperluas pengetahuan, dan mempersiapkan
diri menghadapi tantangan kehidupan.
Melalui pembiasaan disiplin,
tanggung jawab, serta semangat menuntut ilmu, kehidupan pesantren diharapkan
mampu menjadi fondasi dalam membentuk pribadi yang mandiri, bijaksana, dan
berakhlak mulia.
Semangat inilah yang sejalan
dengan cita-cita SMK Nurul Abror Al-Robbaniyin dalam mewujudkan “Generasi
Unggul Berakhlak Mulia.”
Disiplin dan tanggung jawab menjadi dua nilai utama yang
terus ditanamkan kepada peserta didik di SMK Nurul Abror Al-Robbaniyin. Sebagai
lembaga pendidikan berbasis pesantren, sekolah berupaya membentuk generasi yang
tidak hanya unggul dalam bidang akademik dan keterampilan kejuruan, tetapi juga
memiliki karakter yang kuat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Dalam sesi wawancara, Ahmad Rifqi Bahauddin AM, S.E.,
M.H., selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Nurul Abror
Al-Robbaniyin, yang akrab disapa Pak Baha', menegaskan bahwa
pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui teori, melainkan
harus diwujudkan melalui pembiasaan nyata.
"Kami memandang disiplin dan tanggung jawab sebagai
karakter dasar yang harus dimiliki setiap siswa," ungkap Pak Baha'.
Menurutnya, pembentukan karakter tersebut diterapkan melalui
berbagai kegiatan sederhana, seperti datang tepat waktu, menaati peraturan,
menyelesaikan tugas, dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Melalui
pembiasaan ini, sekolah berharap dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya
memiliki kompetensi sesuai bidang keahliannya, tetapi juga berakhlak baik dan
siap menghadapi tantangan dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
Membentuk siswa yang disiplin bukanlah proses yang dapat
dilakukan secara instan. Dibutuhkan pembiasaan yang konsisten serta keteladanan
dari seluruh warga sekolah agar kedisiplinan benar-benar tumbuh menjadi bagian
dari kepribadian peserta didik.
Pak Baha' menjelaskan bahwa penerapan disiplin di SMK Nurul
Abror Al-Robbaniyin dimulai dari aktivitas sehari-hari, seperti kehadiran tepat
waktu, mengikuti kegiatan pembelajaran sesuai jadwal, mengerjakan tugas, serta
mematuhi tata tertib sekolah.
Selain melalui peraturan, guru juga memiliki peran penting
sebagai teladan dalam menerapkan sikap disiplin. Pemantauan dan pembinaan terus
dilakukan kepada peserta didik yang masih membutuhkan pendampingan.
"Pembiasaan ini dilakukan secara terus-menerus agar
kedisiplinan tumbuh dari kesadaran siswa sendiri, bukan hanya karena takut
terhadap aturan," jelas Pak Baha'.
Melalui pendekatan tersebut, sekolah berupaya membangun
pemahaman bahwa disiplin bukan sekadar kewajiban yang harus dipatuhi, tetapi
merupakan kebutuhan dan tanggung jawab setiap individu.
Sebagai sekolah menengah kejuruan yang berada dalam
lingkungan pesantren, SMK Nurul Abror Al-Robbaniyin memiliki perhatian besar
terhadap keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan
pembentukan akhlak.
Dalam wawancara tersebut, Pak Baha' menyampaikan bahwa
terdapat sejumlah nilai karakter yang menjadi perhatian utama sekolah, yakni
kedisiplinan, tanggung jawab, kejujuran, sopan santun, dan akhlak mulia.
Nilai-nilai tersebut ditanamkan melalui kegiatan
pembelajaran, interaksi antarsiswa, pembiasaan sehari-hari, serta lingkungan
pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kepesantrenan.
Menurut Pak Baha', pendidikan karakter diharapkan mampu
membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga
memiliki sikap mandiri, menghormati sesama, mampu bekerja sama, serta
bertanggung jawab terhadap setiap tindakan yang dilakukan.
Hal tersebut sejalan dengan semangat pendidikan yang terus
diupayakan oleh SMK Nurul Abror Al-Robbaniyin melalui tagline "Generasi
Unggul Berakhlak Mulia."
Dalam upaya membentuk karakter peserta didik, sekolah tentu
menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan yang dihadapi SMK Nurul
Abror Al-Robbaniyin adalah keberagaman karakter, latar belakang, serta
kebiasaan yang dimiliki masing-masing siswa.
Pak Baha' mengungkapkan bahwa tidak semua peserta didik
memiliki tingkat kesadaran disiplin yang sama. Sebagian siswa telah mampu
menjalankan kewajibannya secara mandiri, sementara sebagian lainnya masih
membutuhkan arahan dan pendampingan, terutama dalam hal ketepatan waktu,
kehadiran, dan penyelesaian tugas.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, pihak sekolah
menerapkan pendekatan pembinaan melalui pemberian nasihat, keteladanan, serta
koordinasi antara wali kelas, guru Bimbingan dan Konseling (BK), orang tua, dan
pihak pesantren.
Pak Baha' menekankan bahwa kolaborasi tersebut menjadi
langkah penting dalam membangun kesadaran peserta didik terhadap kewajiban dan
tanggung jawabnya.
Melalui pendekatan ini, sekolah berharap siswa mampu
menjalankan kedisiplinan bukan semata-mata karena takut terhadap sanksi,
melainkan karena tumbuhnya kesadaran dari dalam diri untuk menjadi pribadi yang
lebih baik.
Pembentukan karakter disiplin dan tanggung jawab merupakan
investasi jangka panjang dalam mempersiapkan masa depan peserta didik.
Nilai-nilai yang ditanamkan selama menjalani pendidikan diharapkan tidak
berhenti ketika siswa menyelesaikan masa sekolah, tetapi terus melekat dalam
kehidupan mereka.
Pak Baha' menyampaikan harapannya agar para lulusan SMK
Nurul Abror Al-Robbaniyin mampu menjadi pribadi yang tidak hanya memiliki
kemampuan akademik dan keterampilan profesional, tetapi juga menjunjung tinggi
nilai kejujuran, kesopanan, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari
pencapaian nilai dan kemampuan bekerja, tetapi juga dari bagaimana peserta
didik mampu menjaga sikap, menghormati orang lain, hidup mandiri, serta
memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
"Kami ingin siswa tidak hanya disiplin ketika berada
di sekolah, tetapi menjadikan kedisiplinan dan tanggung jawab sebagai bagian
dari kepribadian mereka di mana pun berada," tegas Pak Baha'.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa pendidikan
karakter merupakan tanggung jawab bersama yang harus terus dibangun melalui
pembiasaan, pendampingan, serta keteladanan.
Dengan memadukan pendidikan kejuruan dan nilai-nilai
kepesantrenan, SMK Nurul Abror Al-Robbaniyin terus berupaya mempersiapkan
generasi yang tidak hanya siap menghadapi dunia kerja, tetapi juga mampu
menjalani kehidupan dengan prinsip, integritas, serta akhlak yang mulia.
SMK NURUL ABROR AL-ROBBANIYIN
Generasi Unggul Berakhlak Mulia