SMK Nurul Abror Al Robbaniyin

Dari Bangku SMK ke Panggung MQK, Siswa SMKNAA Bawa Harapan Pesantren

11 August 2026
Oleh: Administrator
Dilihat: 046 kali
Bagikan:
Dari Bangku SMK ke Panggung MQK, Siswa SMKNAA Bawa Harapan Pesantren

Banyuwangi — Semangat belajar dan tradisi keilmuan pesantren kembali ditunjukkan oleh salah satu siswa SMK Nurul Abror Al-Robbaniyin (SMKNAA), Anas Abdul Fadil, yang mendapat kepercayaan untuk mewakili Pondok Pesantren Nurul Abror Al-Robbaniyyin dalam ajang Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Antar Cabang Maktab Nubdatul Bayan (MAKTUBA) yang akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Mamba’ul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura.

Kepercayaan yang diberikan kepada Anas menjadi sebuah kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar. Ia akan membawa nama baik pesantren dan sekolah dalam ajang yang mempertemukan para peserta terbaik dari berbagai cabang MAKTUBA.

Ikhtiar Menuju Panggung MQK

Menjelang pelaksanaan kompetisi tersebut, siswa yang menjadi delegasi pesantren terus melakukan berbagai persiapan secara intensif. Tidak hanya memantapkan kemampuan membaca kitab kuning, ia juga memperdalam pemahaman terhadap kaidah bahasa Arab dan ketepatan membaca teks kitab.

Persiapan dilakukan melalui latihan rutin dan intensif dengan pendampingan seorang ustaz yang merupakan alumni SMK Nurul Abror Al-Robbaniyyin sekaligus sosok berpengalaman yang pernah menorehkan prestasi sebagai juara dalam ajang MQK pada kesempatan sebelumnya. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga dalam membimbing sang peserta, mulai dari ketepatan membaca kitab, pemahaman materi, hingga strategi menghadapi perlombaan. Setiap sesi latihan tidak hanya difokuskan pada penguasaan materi, tetapi juga pada pembentukan ketelitian, kepercayaan diri, ketenangan, serta kesiapan mental agar mampu memberikan penampilan terbaik di hadapan dewan juri dan para peserta dari berbagai cabang MAKTUBA.

Keseriusan peserta dalam mempersiapkan diri menghadapi ajang MQK terlihat dari padatnya waktu latihan yang dijalani setiap hari. Proses belajar tidak hanya dilakukan pada jam belajar wajib, baik siang maupun malam, tetapi juga ditambah dengan sesi khusus selepas salat Maghrib. Bahkan setelah jam belajar malam berakhir sekitar pukul 22.00 WIB, latihan masih berlanjut hingga kurang lebih pukul 01.00 dini hari.

Memasuki lima hari terakhir menjelang keberangkatan menuju lokasi perlombaan, intensitas persiapan semakin ditingkatkan. Sebagai bentuk dukungan penuh terhadap perjuangan sang delegasi, pihak SMK Nurul Abror Al-Robbaniyyin memberikan izin khusus untuk tidak mengikuti pembelajaran reguler di kelas. Waktu sekolah mulai pukul 07.15 hingga 11.00 WIB dialihkan sepenuhnya untuk memperdalam materi, memantapkan kemampuan membaca kitab, serta mempersiapkan mental menghadapi kompetisi.

Padatnya jadwal tersebut menjadi gambaran nyata tentang besarnya ikhtiar yang dilakukan. Waktu istirahat yang berkurang dan latihan yang semakin intensif dijalani dengan satu tekad: mempersiapkan penampilan terbaik dan membawa nama baik Pondok Pesantren Nurul Abror Al-Robbaniyyin di panggung MQK.

Strategi Pembimbing dalam Menempa Sang Delegasi

Dalam proses persiapannya, pembimbing menerapkan metode latihan secara bertahap dan terarah. Pada tahap awal, Anas Abdul Fadil difokuskan untuk mendalami Kitab Fathul Qorib, terutama dalam aspek ketepatan dan kelancaran membaca hingga dinilai cukup cakap. Setelah kemampuan membaca mulai matang, latihan kemudian diarahkan pada hafalan Nubdzah yang ditargetkan dapat dikuasai dalam waktu sekitar satu minggu.

Tahap berikutnya dilakukan melalui simulasi dan demonstrasi secara rutin. Dalam sesi ini, Anas dibiasakan tampil sebagaimana suasana perlombaan sebenarnya, mulai dari membaca kitab, menjawab, hingga menghadapi berbagai kemungkinan pertanyaan. Metode tersebut dilakukan untuk melatih penguasaan materi sekaligus membangun keberanian, ketenangan, dan kesiapan mental saat tampil di hadapan dewan juri.

Meski latihan dilakukan secara intensif, waktu persiapan yang tersedia terbilang cukup terbatas. Sang pembimbing mengungkapkan bahwa informasi mengenai perlombaan diterima dalam waktu yang relatif mendadak.

“Kalau soal undangan lombanya memang cukup mendadak. Saya sendiri baru dapat informasi sekitar satu setengah bulan sebelum keberangkatan. Jadi kalau menurut saya, dari segi waktu persiapan sebenarnya masih kurang,” tutur sang pembimbing.

Keterbatasan waktu tersebut tidak menyurutkan semangat pembimbing dan peserta. Justru dengan waktu yang ada, setiap sesi latihan dimanfaatkan semaksimal mungkin agar Anas mampu tampil dengan kesiapan terbaik saat berlaga di ajang MQK Antar Cabang MAKTUBA.

Penilaian dan Harapan Sang Pembimbing

Melihat perkembangan selama proses latihan, sang pembimbing menilai kemampuan peserta sudah berada pada tahap yang cukup baik. Meski waktu persiapan terbilang singkat, ia tetap optimistis Anas dan peserta lainnya mampu tampil maksimal saat berada di panggung MQK nanti.

“Kalau melihat kemampuan mereka sekarang, menurut saya sudah terbilang baik. Saya juga cukup yakin mereka bisa tampil bagus di MQK nanti. Harapan saya paling tidak mereka bisa bawa pulang prestasi. Kalau memang mampu, saya berharap mereka bisa mempertahankan posisi juara satu, karena sebelumnya Pondok Pesantren Nurul Abror Al-Robbaniyyin sudah berhasil membawa pulang piala juara satu secara berturut-turut,” tutur M. Sofi Efendi, selaku pembimbing.

Bagi M. Sofi Efendi, mempertahankan prestasi tentu bukan perkara mudah. Namun, dengan latihan yang terus dimatangkan dan semangat peserta yang tetap terjaga, peluang untuk kembali mengukir hasil terbaik tetap terbuka.

Menjaga Tradisi, Mengukir Prestasi

Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) menjadi salah satu ajang penting dalam tradisi pendidikan pesantren. Kompetisi ini tidak hanya menguji kemampuan membaca kitab tanpa harakat, tetapi juga pemahaman peserta terhadap struktur bahasa dan isi kitab.

Keikutsertaan Anas Abdul Fadil, siswa SMK Nurul Abror Al-Robbaniyin, menunjukkan bahwa pendidikan kejuruan dan pendidikan pesantren dapat berjalan beriringan. Di tengah pembelajaran kompetensi kejuruan, siswa tetap memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan keagamaan dan tradisi membaca kitab.

Dukungan penuh diberikan oleh pihak sekolah dan keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Abror Al-Robbaniyyin. Doa dan harapan terus mengiringi langkah Anas agar mampu tampil maksimal dan membawa hasil terbaik.

Dengan semangat belajar, disiplin latihan, serta dukungan dari para guru dan pengasuh pesantren, Anas Abdul Fadil kini bersiap membawa satu tekad: berkompetisi dengan ilmu, menjaga tradisi pesantren, dan membawa pulang prestasi.

Selamat berjuang, Anas Abdul Fadil! Semoga diberikan kemudahan, kelancaran, dan hasil terbaik dalam Musabaqah Qira’atil Kutub Antar Cabang MAKTUBA.

SMKNAA — Berilmu, Berkarakter, dan Siap Berprestasi.