Banyuwangi — Pembelajaran di
sekolah tidak selalu berhenti pada teori dan angka di atas kertas. Siswa kelas
XII SMK Nurul Abror Al-Robbaniyin (SMKNAA) membuktikannya melalui kegiatan
praktik kewirausahaan yang merupakan bagian dari tugas mata pelajaran Projek
Kreatif dan Kewirausahaan (PKK) di bawah bimbingan Bapak Muhammad Amir,
S.E. Kegiatan ini mengubah tugas pembelajaran menjadi pengalaman nyata
dalam merancang, menjalankan, dan memperoleh keuntungan atau cuan dari
sebuah usaha.
Dalam kegiatan tersebut, para
siswa ditantang untuk menjalankan proses usaha secara langsung, mulai dari
menentukan produk yang akan dijual, menghitung kebutuhan modal, menetapkan
harga jual, melakukan promosi, melayani pembeli, hingga menghitung omzet dan
keuntungan dari hasil penjualan. Melalui tugas PKK ini, siswa tidak hanya
memahami konsep kewirausahaan secara teoritis, tetapi juga memperoleh
pengalaman nyata mengenai bagaimana sebuah ide dapat dikembangkan menjadi
kegiatan usaha yang memiliki nilai ekonomi.
Praktik Usaha, Pengalaman
Nyata
Dalam pelaksanaannya, siswa tidak hanya diminta membuat
konsep usaha, tetapi benar-benar terjun langsung menjalankan kegiatan jual
beli. Mereka memulai dengan menentukan produk yang akan dipasarkan,
menghitung kebutuhan modal dan biaya produksi, menentukan harga jual,
menyiapkan produk, melakukan promosi, hingga menawarkan dan menjualnya kepada
konsumen.
Beragam produk dipilih dan dikembangkan oleh siswa, terutama
produk makanan dan minuman yang memiliki peluang pasar di lingkungan sekolah,
seperti aneka makanan ringan, jajanan, makanan siap saji, minuman segar, serta
berbagai produk kreatif lainnya yang disesuaikan dengan ide masing-masing
kelompok.
Para siswa menjalankan kegiatan tersebut secara berkelompok,
sehingga setiap anggota memiliki tanggung jawab dalam proses usaha. Ada yang
bertugas menyiapkan produk, mengatur keuangan, melakukan pemasaran, melayani
pembeli, hingga mencatat hasil penjualan.
Setelah kegiatan penjualan selesai, siswa juga melakukan perhitungan
omzet, modal, dan keuntungan yang diperoleh. Dari proses tersebut, mereka
dapat mengetahui apakah strategi usaha yang dijalankan berhasil sekaligus
melakukan evaluasi terhadap kekurangan selama kegiatan.
Bukan Sekadar Jualan, Ini Tujuan Kegiatan PKK
Kegiatan praktik kewirausahaan
ini diberikan bukan semata-mata agar siswa mampu menjual produk dan memperoleh
keuntungan. Lebih dari itu, tugas tersebut dirancang sebagai sarana edukasi
sekaligus bekal bagi siswa kelas XII SMKNAA agar memiliki pemahaman dan
pengalaman nyata tentang dunia kewirausahaan.
Melalui kegiatan ini, siswa
diajak memahami bahwa membangun usaha membutuhkan proses yang panjang, mulai
dari menemukan ide, menentukan produk, menghitung modal, menetapkan harga,
melakukan promosi, melayani konsumen, hingga mengevaluasi hasil penjualan.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan keberanian, kreativitas,
kemandirian, tanggung jawab, serta kemampuan mengambil keputusan.
Guru mata pelajaran Projek
Kreatif dan Kewirausahaan (PKK), Bapak Muhammad Amir, S.E., menegaskan
bahwa tujuan utama kegiatan ini bukan hanya melihat seberapa besar keuntungan
yang diperoleh siswa.
“Bukan hasil yang saya
tekankan, tapi prosesnya,” tutur Bapak Muhammad Amir, S.E.
Menurutnya, proses yang dilalui
siswa justru menjadi bagian terpenting dari pembelajaran. Siswa perlu merasakan
sendiri bagaimana menghadapi tantangan, mencari solusi ketika produk belum
diminati, mengatur keuangan, bekerja sama dalam kelompok, hingga membangun
kepercayaan diri saat menawarkan produk kepada konsumen.
Dengan pengalaman tersebut, siswa
diharapkan memiliki bekal dasar kewirausahaan yang dapat mereka manfaatkan
setelah lulus. Bukan hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki
keberanian untuk melihat peluang, mengembangkan ide, dan suatu saat menciptakan
usaha secara mandiri.
Dari Modal Rp100 Ribu, Siswa
Belajar Membaca Peluang
Cerita menarik datang dari salah
satu kelompok siswa kelas XII yang mengikuti praktik kewirausahaan PKK. Dalam
kegiatan ini, mereka memilih menjual mie gelas dan aneka minuman sebagai
produk utama.
Pemilihan produk tersebut bukan
tanpa alasan. Menurut salah satu perwakilan kelompok, mie gelas dipilih
karena harganya terjangkau, praktis, dan mudah disajikan, sehingga dinilai
cocok dengan kebutuhan siswa di lingkungan sekolah. Sementara itu, minuman
seperti kopi dipilih sebagai pelengkap yang dapat dinikmati saat kegiatan
belajar berlangsung.
“Kami memilih mie gelas karena
murah dan instan. Untuk minuman, kami tambahkan seperti kopi, supaya saat jam
KBM siswa bisa lebih segar dan tidak mudah mengantuk,” ungkap salah satu
perwakilan kelompok.
Dengan modal awal sekitar Rp100.000,
kelompok tersebut mulai menjalankan usahanya. Mie gelas dijual dengan harga Rp3.000
per porsi, sedangkan minuman dipasarkan dengan kisaran harga Rp3.000
hingga Rp5.000, tergantung jenis minuman yang dipilih.
Meski terlihat sederhana,
pengalaman ini membuat siswa belajar banyak hal secara langsung, mulai dari
menentukan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, mengatur modal,
menetapkan harga jual, hingga menghitung potensi keuntungan.
Bagi mereka, praktik ini menjadi
pengalaman bahwa peluang usaha bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat
dengan kehidupan sehari-hari. Modal tidak harus besar, tetapi kejelian
melihat kebutuhan konsumen menjadi salah satu kunci penting dalam menjalankan
usaha.
Tak Berhenti di Tugas, Guru
Ingin Semangat Wirausaha Terus Tumbuh
Bagi Bapak Muhammad Amir, S.E.,
selaku guru mata pelajaran Projek Kreatif dan Kewirausahaan (PKK), kegiatan ini
bukan sekadar latihan berjualan. Ia berharap pengalaman tersebut mampu
membentuk karakter wirausaha dalam diri siswa, sekaligus menanamkan
nilai-nilai penting dalam dunia bisnis seperti ambisi untuk berkembang,
kemampuan berkolaborasi, serta sikap pantang menyerah.
Selain itu, kegiatan ini juga
diharapkan dapat membangun rasa percaya diri dan kemandirian siswa. Menurutnya,
keberanian untuk menawarkan produk, mengambil keputusan, bekerja dalam tim,
hingga menyelesaikan persoalan selama kegiatan merupakan bagian dari proses
pembentukan mental wirausaha.
Dalam menilai keberhasilan siswa,
Bapak Amir tidak hanya melihat dari besar kecilnya keuntungan yang diperoleh.
Penilaian lebih diarahkan pada proses POAC, yaitu Planning,
Organizing, Actuating, dan Controlling. Siswa dinilai dari bagaimana
mereka menyusun rencana usaha, membagi tugas dalam kelompok, menjalankan
kegiatan penjualan, hingga melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap hasil
usaha.
Perjalanan kegiatan ini juga
tidak langsung berjalan mulus. Pada awalnya, sebagian siswa masih terlihat
kurang bersemangat dan belum kompak dalam menjalankan tugas. Namun, setelah
mendapatkan motivasi serta dorongan dari guru, termasuk adanya rencana tasyakuran
setelah kegiatan selesai, antusiasme siswa mulai tumbuh.
Menurut Bapak Amir, hal tersebut
menunjukkan bahwa siswa sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi tetap
membutuhkan motivasi agar lebih kompak dan percaya diri dalam menjalankan
sebuah kegiatan bersama.
Ke depan, kegiatan kewirausahaan
di SMKNAA diharapkan tidak berhenti sebagai tugas mata pelajaran saja. Hasil
kegiatan ini akan menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan program berikutnya.
Bapak Amir juga berharap nantinya
dapat digelar kegiatan yang lebih menarik, seperti pekan jualan atau
kompetisi penjualan antarsiswa, sehingga siswa memiliki ruang yang lebih
luas untuk menguji kreativitas, strategi pemasaran, kerja sama, sekaligus
kemampuan mereka dalam membaca peluang bisnis.
Dengan begitu, pembelajaran PKK
tidak hanya menghasilkan nilai akademik, tetapi juga dapat menjadi pengalaman
nyata yang membentuk siswa agar lebih percaya diri, mandiri, kompak, dan
memiliki mental pantang menyerah dalam menghadapi dunia usaha maupun dunia
kerja.
Aksi wirausaha siswa kelas XII
SMKNAA menjadi bukti bahwa pembelajaran dapat berlangsung lebih hidup ketika
siswa diberi kesempatan untuk terjun langsung, mencoba, dan merasakan sendiri
proses membangun sebuah usaha.
SMKNAA — Berilmu, Berkarakter,
Terampil, dan Siap Berkarya.