SMK Nurul Abror Al Robbaniyin

Dari Tugas Jadi Cuan: Aksi Wirausaha Siswa Kelas XII SMKNAA

15 August 2026
Oleh: Administrator
Dilihat: 037 kali
Bagikan:
Dari Tugas Jadi Cuan: Aksi Wirausaha Siswa Kelas XII SMKNAA

Banyuwangi — Pembelajaran di sekolah tidak selalu berhenti pada teori dan angka di atas kertas. Siswa kelas XII SMK Nurul Abror Al-Robbaniyin (SMKNAA) membuktikannya melalui kegiatan praktik kewirausahaan yang merupakan bagian dari tugas mata pelajaran Projek Kreatif dan Kewirausahaan (PKK) di bawah bimbingan Bapak Muhammad Amir, S.E. Kegiatan ini mengubah tugas pembelajaran menjadi pengalaman nyata dalam merancang, menjalankan, dan memperoleh keuntungan atau cuan dari sebuah usaha.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa ditantang untuk menjalankan proses usaha secara langsung, mulai dari menentukan produk yang akan dijual, menghitung kebutuhan modal, menetapkan harga jual, melakukan promosi, melayani pembeli, hingga menghitung omzet dan keuntungan dari hasil penjualan. Melalui tugas PKK ini, siswa tidak hanya memahami konsep kewirausahaan secara teoritis, tetapi juga memperoleh pengalaman nyata mengenai bagaimana sebuah ide dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha yang memiliki nilai ekonomi.

Praktik Usaha, Pengalaman Nyata

Dalam pelaksanaannya, siswa tidak hanya diminta membuat konsep usaha, tetapi benar-benar terjun langsung menjalankan kegiatan jual beli. Mereka memulai dengan menentukan produk yang akan dipasarkan, menghitung kebutuhan modal dan biaya produksi, menentukan harga jual, menyiapkan produk, melakukan promosi, hingga menawarkan dan menjualnya kepada konsumen.

Beragam produk dipilih dan dikembangkan oleh siswa, terutama produk makanan dan minuman yang memiliki peluang pasar di lingkungan sekolah, seperti aneka makanan ringan, jajanan, makanan siap saji, minuman segar, serta berbagai produk kreatif lainnya yang disesuaikan dengan ide masing-masing kelompok.

Para siswa menjalankan kegiatan tersebut secara berkelompok, sehingga setiap anggota memiliki tanggung jawab dalam proses usaha. Ada yang bertugas menyiapkan produk, mengatur keuangan, melakukan pemasaran, melayani pembeli, hingga mencatat hasil penjualan.

Setelah kegiatan penjualan selesai, siswa juga melakukan perhitungan omzet, modal, dan keuntungan yang diperoleh. Dari proses tersebut, mereka dapat mengetahui apakah strategi usaha yang dijalankan berhasil sekaligus melakukan evaluasi terhadap kekurangan selama kegiatan.

Bukan Sekadar Jualan, Ini Tujuan Kegiatan PKK

Kegiatan praktik kewirausahaan ini diberikan bukan semata-mata agar siswa mampu menjual produk dan memperoleh keuntungan. Lebih dari itu, tugas tersebut dirancang sebagai sarana edukasi sekaligus bekal bagi siswa kelas XII SMKNAA agar memiliki pemahaman dan pengalaman nyata tentang dunia kewirausahaan.

Melalui kegiatan ini, siswa diajak memahami bahwa membangun usaha membutuhkan proses yang panjang, mulai dari menemukan ide, menentukan produk, menghitung modal, menetapkan harga, melakukan promosi, melayani konsumen, hingga mengevaluasi hasil penjualan. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan keberanian, kreativitas, kemandirian, tanggung jawab, serta kemampuan mengambil keputusan.

Guru mata pelajaran Projek Kreatif dan Kewirausahaan (PKK), Bapak Muhammad Amir, S.E., menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini bukan hanya melihat seberapa besar keuntungan yang diperoleh siswa.

“Bukan hasil yang saya tekankan, tapi prosesnya,” tutur Bapak Muhammad Amir, S.E.

Menurutnya, proses yang dilalui siswa justru menjadi bagian terpenting dari pembelajaran. Siswa perlu merasakan sendiri bagaimana menghadapi tantangan, mencari solusi ketika produk belum diminati, mengatur keuangan, bekerja sama dalam kelompok, hingga membangun kepercayaan diri saat menawarkan produk kepada konsumen.

Dengan pengalaman tersebut, siswa diharapkan memiliki bekal dasar kewirausahaan yang dapat mereka manfaatkan setelah lulus. Bukan hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki keberanian untuk melihat peluang, mengembangkan ide, dan suatu saat menciptakan usaha secara mandiri.

Dari Modal Rp100 Ribu, Siswa Belajar Membaca Peluang

Cerita menarik datang dari salah satu kelompok siswa kelas XII yang mengikuti praktik kewirausahaan PKK. Dalam kegiatan ini, mereka memilih menjual mie gelas dan aneka minuman sebagai produk utama.

Pemilihan produk tersebut bukan tanpa alasan. Menurut salah satu perwakilan kelompok, mie gelas dipilih karena harganya terjangkau, praktis, dan mudah disajikan, sehingga dinilai cocok dengan kebutuhan siswa di lingkungan sekolah. Sementara itu, minuman seperti kopi dipilih sebagai pelengkap yang dapat dinikmati saat kegiatan belajar berlangsung.

“Kami memilih mie gelas karena murah dan instan. Untuk minuman, kami tambahkan seperti kopi, supaya saat jam KBM siswa bisa lebih segar dan tidak mudah mengantuk,” ungkap salah satu perwakilan kelompok.

Dengan modal awal sekitar Rp100.000, kelompok tersebut mulai menjalankan usahanya. Mie gelas dijual dengan harga Rp3.000 per porsi, sedangkan minuman dipasarkan dengan kisaran harga Rp3.000 hingga Rp5.000, tergantung jenis minuman yang dipilih.

Meski terlihat sederhana, pengalaman ini membuat siswa belajar banyak hal secara langsung, mulai dari menentukan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, mengatur modal, menetapkan harga jual, hingga menghitung potensi keuntungan.

Bagi mereka, praktik ini menjadi pengalaman bahwa peluang usaha bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Modal tidak harus besar, tetapi kejelian melihat kebutuhan konsumen menjadi salah satu kunci penting dalam menjalankan usaha.

Tak Berhenti di Tugas, Guru Ingin Semangat Wirausaha Terus Tumbuh

Bagi Bapak Muhammad Amir, S.E., selaku guru mata pelajaran Projek Kreatif dan Kewirausahaan (PKK), kegiatan ini bukan sekadar latihan berjualan. Ia berharap pengalaman tersebut mampu membentuk karakter wirausaha dalam diri siswa, sekaligus menanamkan nilai-nilai penting dalam dunia bisnis seperti ambisi untuk berkembang, kemampuan berkolaborasi, serta sikap pantang menyerah.

Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat membangun rasa percaya diri dan kemandirian siswa. Menurutnya, keberanian untuk menawarkan produk, mengambil keputusan, bekerja dalam tim, hingga menyelesaikan persoalan selama kegiatan merupakan bagian dari proses pembentukan mental wirausaha.

Dalam menilai keberhasilan siswa, Bapak Amir tidak hanya melihat dari besar kecilnya keuntungan yang diperoleh. Penilaian lebih diarahkan pada proses POAC, yaitu Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Siswa dinilai dari bagaimana mereka menyusun rencana usaha, membagi tugas dalam kelompok, menjalankan kegiatan penjualan, hingga melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap hasil usaha.

Perjalanan kegiatan ini juga tidak langsung berjalan mulus. Pada awalnya, sebagian siswa masih terlihat kurang bersemangat dan belum kompak dalam menjalankan tugas. Namun, setelah mendapatkan motivasi serta dorongan dari guru, termasuk adanya rencana tasyakuran setelah kegiatan selesai, antusiasme siswa mulai tumbuh.

Menurut Bapak Amir, hal tersebut menunjukkan bahwa siswa sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi tetap membutuhkan motivasi agar lebih kompak dan percaya diri dalam menjalankan sebuah kegiatan bersama.

Ke depan, kegiatan kewirausahaan di SMKNAA diharapkan tidak berhenti sebagai tugas mata pelajaran saja. Hasil kegiatan ini akan menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan program berikutnya.

Bapak Amir juga berharap nantinya dapat digelar kegiatan yang lebih menarik, seperti pekan jualan atau kompetisi penjualan antarsiswa, sehingga siswa memiliki ruang yang lebih luas untuk menguji kreativitas, strategi pemasaran, kerja sama, sekaligus kemampuan mereka dalam membaca peluang bisnis.

Dengan begitu, pembelajaran PKK tidak hanya menghasilkan nilai akademik, tetapi juga dapat menjadi pengalaman nyata yang membentuk siswa agar lebih percaya diri, mandiri, kompak, dan memiliki mental pantang menyerah dalam menghadapi dunia usaha maupun dunia kerja.

Aksi wirausaha siswa kelas XII SMKNAA menjadi bukti bahwa pembelajaran dapat berlangsung lebih hidup ketika siswa diberi kesempatan untuk terjun langsung, mencoba, dan merasakan sendiri proses membangun sebuah usaha.

SMKNAA — Berilmu, Berkarakter, Terampil, dan Siap Berkarya.