SMK Nurul Abror Al Robbaniyin

34 Santri, Satu Komando: Kisah Paskibra SMKNAA Mengibarkan Sang Merah Putih

19 August 2026
Oleh: Administrator
Dilihat: 020 kali
Bagikan:
34 Santri, Satu Komando: Kisah Paskibra SMKNAA Mengibarkan Sang Merah Putih

Banyuwangi — Suasana khidmat dan penuh semangat kebangsaan menyelimuti pelaksanaan upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Abror Al-Robbaniyyin. Kegiatan ini diikuti oleh para santri, pendidik, dan tenaga kependidikan sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan sekaligus ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan dengan penuh pengorbanan.

Dalam rangkaian upacara tersebut, sebanyak 34 siswa SMK Nurul Abror Al-Robbaniyin mendapat amanah untuk bertugas sebagai Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra). Mereka mengambil peran dalam prosesi pengibaran Sang Merah Putih sebagai bagian dari keseluruhan pelaksanaan upacara. Tugas tersebut menjadi kesempatan bagi para siswa untuk menunjukkan kedisiplinan, kekompakan, dan tanggung jawab setelah menjalani serangkaian persiapan dan latihan sebelum hari pelaksanaan.

Dari Latihan Menuju Hari Pengibaran

Persiapan 34 santri SMKNAA untuk menjalankan tugas sebagai Paskibra telah dimulai sejak 2 Agustus 2026 dan terus berlangsung hingga H-1 menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Selama masa persiapan tersebut, latihan dilaksanakan dua kali dalam sehari dengan jadwal yang diatur agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM) maupun aktivitas utama santri di pondok pesantren.

Setiap sesi latihan difokuskan pada penguatan baris-berbaris, ketepatan langkah, pembentukan formasi, kekompakan gerakan, serta kesiapan fisik dan mental. Para santri terus dilatih agar mampu bergerak secara seragam dan menjaga konsentrasi selama menjalankan tugas pada upacara kemerdekaan.

Menariknya, 34 santri tersebut tidak menjalankan tugas yang sama. Masing-masing memiliki peran tersendiri dalam rangkaian pengibaran bendera. Sebagian santri dipercaya menjadi pasukan inti pengibar Sang Merah Putih, sementara anggota lainnya bertugas membentuk formasi khusus angka “81” sebagai simbol peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Formasi tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik dalam persiapan Paskibra tahun ini. Tidak hanya menuntut ketepatan posisi, para santri juga harus mampu menjaga jarak, keserasian langkah, dan koordinasi agar angka 81 dapat terbentuk dengan jelas dan rapi.

Latihan yang berlangsung sejak awal Agustus itu pun bukan hanya menjadi proses mempersiapkan sebuah penampilan, tetapi juga menjadi ruang bagi para santri untuk belajar tentang disiplin, kerja sama, ketelitian, dan tanggung jawab. Setiap langkah yang mereka latih menjadi bagian dari persiapan menuju satu momen penting: mengibarkan Sang Merah Putih dengan penuh kehormatan.

Bukan Sekadar Bertugas, Ini Nilai yang Ditanamkan

Menjadi Paskibra bukan sekadar menjalankan tugas saat upacara. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembentukan karakter santri, khususnya dalam menerapkan Trisila Santri: bekerja tanpa disuruh, disiplin tanpa diawasi, dan bertanggung jawab tanpa diminta.

Nilai tersebut tercermin dalam proses latihan hingga pelaksanaan tugas. Para santri belajar berinisiatif, menjaga kedisiplinan, serta menyelesaikan amanah yang diberikan dengan penuh tanggung jawab tanpa harus selalu menunggu arahan.

Di sisi lain, tugas mengibarkan Sang Merah Putih juga menjadi momentum untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air serta kesadaran dalam berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, Paskibra tidak hanya melatih baris-berbaris, tetapi juga menjadi ruang untuk membentuk santri yang disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki jiwa nasionalisme.

Cerita dari Barisan Paskibra

M. Faisal, selaku ketua pasukan Paskibra, mengungkapkan bahwa menjadi bagian dari 34 santri yang dipercaya menjalankan tugas pengibaran Sang Merah Putih merupakan pengalaman yang penuh tantangan sekaligus kebanggaan.

“Selama latihan, tantangan terbesar adalah menjaga kekompakan dan kedisiplinan seluruh anggota. Kami harus belajar bergerak dalam satu komando dan saling mengingatkan ketika ada kesalahan. Awalnya memang terasa berat, tetapi dari proses itu kami semakin kompak dan percaya diri,” ungkap M. Faisal.

Menurut Faisal, kepercayaan yang diberikan kepada mereka bukan sekadar tugas seremonial. Ada rasa tanggung jawab dan kebanggaan tersendiri ketika nantinya berdiri di hadapan seluruh peserta upacara untuk menjalankan amanah mengibarkan Sang Merah Putih.

Tantangan Menyatukan 34 Anggota Pasukan

Menyatukan 34 santri dalam satu barisan tentu bukan perkara mudah. Salah satu tantangan yang muncul selama latihan adalah menyamakan langkah, gerakan tangan, dan menjaga konsentrasi agar seluruh anggota dapat bergerak dalam satu irama.

Salah satu santri bahkan sempat mengalami kesalahan gerakan ketika kaki dan tangan kanannya terangkat secara bersamaan, sehingga gerakannya tidak sesuai dengan pola yang telah dilatih. Kesalahan sederhana tersebut menjadi bahan evaluasi sekaligus pembelajaran bagi seluruh anggota untuk lebih fokus dan teliti.

Dari berbagai tantangan tersebut, para santri terus belajar memperbaiki gerakan dan saling mengingatkan. Sebab, dalam satu pasukan, kekompakan bukan tentang siapa yang paling cepat atau paling sempurna, tetapi bagaimana 34 orang mampu bergerak sebagai satu kesatuan.

Pembina Bicara tentang Proses dan Karakter

Bagi pembina Paskibra, keberhasilan 34 santri tidak hanya dilihat dari seberapa rapi penampilan mereka saat upacara. Proses latihan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemauan untuk terus belajar menjadi bagian penting dalam melihat perkembangan para santri.

Dengan waktu persiapan yang terbatas, pembina menyadari bahwa masih terdapat berbagai kekurangan. Tidak semua santri yang terlibat sebelumnya memiliki pengalaman atau pengetahuan tentang Paskibra. Namun, kemauan untuk belajar dan mengikuti proses menjadi hal yang patut diapresiasi.

“Sebenarnya belum cukup, karena memang kendalanya itu waktu. Tidak semua santri yang ikut Paskibra tahu tentang Paskibra, tapi itu sudah cukup bagus,” ungkap pembina Paskibra.

Menurutnya, keterbatasan waktu justru menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi bersama. Yang terpenting bukan hanya hasil akhir, tetapi bagaimana para santri mampu berproses, menerima arahan, memperbaiki kesalahan, dan menunjukkan perkembangan selama latihan.

Bersama dalam Semangat Kemerdekaan

Pada akhirnya, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Pondok Pesantren Nurul Abror Al-Robbaniyyin bukan hanya menjadi momentum mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan seluruh keluarga besar pesantren. Para santri, pendidik, tenaga kependidikan, serta seluruh unsur yang terlibat bersama-sama mengambil peran dalam menyemarakkan dan menyukseskan peringatan kemerdekaan.

Bagi 34 santri SMKNAA yang mendapat amanah sebagai Paskibra, pengalaman ini menjadi bagian dari perjalanan untuk belajar disiplin, bertanggung jawab, bekerja sama, percaya diri, dan berani mengambil peran. Semangat tersebut diharapkan terus tumbuh dan menjadi bekal bagi mereka dalam menghadapi masa depan.

Karena SMK bukan hanya tentang belajar untuk bekerja, tetapi juga tentang belajar untuk mandiri, berkarya, berkontribusi, dan siap menghadapi dunia.