Banyuwangi — Suasana
khidmat dan penuh semangat kebangsaan menyelimuti pelaksanaan upacara
peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di
lingkungan Pondok Pesantren Nurul Abror Al-Robbaniyyin. Kegiatan ini
diikuti oleh para santri, pendidik, dan tenaga kependidikan sebagai bentuk
penghormatan terhadap jasa para pahlawan sekaligus ungkapan rasa syukur atas
kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan dengan penuh pengorbanan.
Dalam rangkaian upacara tersebut,
sebanyak 34 siswa SMK Nurul Abror Al-Robbaniyin mendapat amanah untuk
bertugas sebagai Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra). Mereka mengambil
peran dalam prosesi pengibaran Sang Merah Putih sebagai bagian dari keseluruhan
pelaksanaan upacara. Tugas tersebut menjadi kesempatan bagi para siswa untuk
menunjukkan kedisiplinan, kekompakan, dan tanggung jawab setelah menjalani serangkaian
persiapan dan latihan sebelum hari pelaksanaan.
Dari Latihan Menuju Hari
Pengibaran
Persiapan 34 santri SMKNAA untuk
menjalankan tugas sebagai Paskibra telah dimulai sejak 2 Agustus 2026
dan terus berlangsung hingga H-1 menjelang peringatan Hari Kemerdekaan
Republik Indonesia. Selama masa persiapan tersebut, latihan dilaksanakan dua
kali dalam sehari dengan jadwal yang diatur agar tidak mengganggu kegiatan
belajar mengajar (KBM) maupun aktivitas utama santri di pondok pesantren.
Setiap sesi latihan difokuskan
pada penguatan baris-berbaris, ketepatan langkah, pembentukan formasi,
kekompakan gerakan, serta kesiapan fisik dan mental. Para santri terus dilatih
agar mampu bergerak secara seragam dan menjaga konsentrasi selama menjalankan
tugas pada upacara kemerdekaan.
Menariknya, 34 santri tersebut
tidak menjalankan tugas yang sama. Masing-masing memiliki peran tersendiri
dalam rangkaian pengibaran bendera. Sebagian santri dipercaya menjadi pasukan
inti pengibar Sang Merah Putih, sementara anggota lainnya bertugas
membentuk formasi khusus angka “81” sebagai simbol peringatan HUT
ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Formasi tersebut menjadi salah
satu bagian yang menarik dalam persiapan Paskibra tahun ini. Tidak hanya
menuntut ketepatan posisi, para santri juga harus mampu menjaga jarak,
keserasian langkah, dan koordinasi agar angka 81 dapat terbentuk dengan jelas dan
rapi.
Latihan yang berlangsung sejak awal Agustus itu pun bukan hanya menjadi proses mempersiapkan sebuah penampilan, tetapi juga menjadi ruang bagi para santri untuk belajar tentang disiplin, kerja sama, ketelitian, dan tanggung jawab. Setiap langkah yang mereka latih menjadi bagian dari persiapan menuju satu momen penting: mengibarkan Sang Merah Putih dengan penuh kehormatan.
Bukan Sekadar Bertugas, Ini
Nilai yang Ditanamkan
Menjadi Paskibra bukan sekadar
menjalankan tugas saat upacara. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembentukan
karakter santri, khususnya dalam menerapkan Trisila Santri: bekerja tanpa
disuruh, disiplin tanpa diawasi, dan bertanggung jawab tanpa diminta.
Nilai tersebut tercermin dalam
proses latihan hingga pelaksanaan tugas. Para santri belajar berinisiatif,
menjaga kedisiplinan, serta menyelesaikan amanah yang diberikan dengan penuh
tanggung jawab tanpa harus selalu menunggu arahan.
Di sisi lain, tugas mengibarkan
Sang Merah Putih juga menjadi momentum untuk menumbuhkan rasa cinta tanah
air serta kesadaran dalam berbangsa dan bernegara. Dengan demikian,
Paskibra tidak hanya melatih baris-berbaris, tetapi juga menjadi ruang untuk
membentuk santri yang disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki jiwa
nasionalisme.
Cerita dari Barisan Paskibra
M. Faisal, selaku ketua
pasukan Paskibra, mengungkapkan bahwa menjadi bagian dari 34 santri yang
dipercaya menjalankan tugas pengibaran Sang Merah Putih merupakan pengalaman
yang penuh tantangan sekaligus kebanggaan.
“Selama latihan, tantangan
terbesar adalah menjaga kekompakan dan kedisiplinan seluruh anggota. Kami harus
belajar bergerak dalam satu komando dan saling mengingatkan ketika ada
kesalahan. Awalnya memang terasa berat, tetapi dari proses itu kami semakin kompak
dan percaya diri,” ungkap M. Faisal.
Menurut Faisal, kepercayaan yang
diberikan kepada mereka bukan sekadar tugas seremonial. Ada rasa tanggung jawab
dan kebanggaan tersendiri ketika nantinya berdiri di hadapan seluruh peserta
upacara untuk menjalankan amanah mengibarkan Sang Merah Putih.
Tantangan Menyatukan 34
Anggota Pasukan
Menyatukan 34 santri dalam satu
barisan tentu bukan perkara mudah. Salah satu tantangan yang muncul selama
latihan adalah menyamakan langkah, gerakan tangan, dan menjaga konsentrasi
agar seluruh anggota dapat bergerak dalam satu irama.
Salah satu santri bahkan sempat
mengalami kesalahan gerakan ketika kaki dan tangan kanannya terangkat secara
bersamaan, sehingga gerakannya tidak sesuai dengan pola yang telah dilatih.
Kesalahan sederhana tersebut menjadi bahan evaluasi sekaligus pembelajaran bagi
seluruh anggota untuk lebih fokus dan teliti.
Dari berbagai tantangan tersebut,
para santri terus belajar memperbaiki gerakan dan saling mengingatkan. Sebab,
dalam satu pasukan, kekompakan bukan tentang siapa yang paling cepat atau
paling sempurna, tetapi bagaimana 34 orang mampu bergerak sebagai satu
kesatuan.
Pembina Bicara tentang Proses
dan Karakter
Bagi pembina Paskibra,
keberhasilan 34 santri tidak hanya dilihat dari seberapa rapi penampilan mereka
saat upacara. Proses latihan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemauan untuk
terus belajar menjadi bagian penting dalam melihat perkembangan para santri.
Dengan waktu persiapan yang
terbatas, pembina menyadari bahwa masih terdapat berbagai kekurangan. Tidak
semua santri yang terlibat sebelumnya memiliki pengalaman atau pengetahuan
tentang Paskibra. Namun, kemauan untuk belajar dan mengikuti proses menjadi hal
yang patut diapresiasi.
“Sebenarnya belum cukup,
karena memang kendalanya itu waktu. Tidak semua santri yang ikut Paskibra tahu
tentang Paskibra, tapi itu sudah cukup bagus,” ungkap pembina Paskibra.
Menurutnya, keterbatasan waktu
justru menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi bersama. Yang
terpenting bukan hanya hasil akhir, tetapi bagaimana para santri mampu
berproses, menerima arahan, memperbaiki kesalahan, dan menunjukkan perkembangan
selama latihan.
Bersama dalam Semangat
Kemerdekaan
Pada akhirnya, peringatan HUT
ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Pondok Pesantren Nurul Abror
Al-Robbaniyyin bukan hanya menjadi momentum mengenang jasa para pahlawan,
tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan seluruh keluarga besar
pesantren. Para santri, pendidik, tenaga kependidikan, serta seluruh unsur yang
terlibat bersama-sama mengambil peran dalam menyemarakkan dan menyukseskan
peringatan kemerdekaan.
Bagi 34 santri SMKNAA yang
mendapat amanah sebagai Paskibra, pengalaman ini menjadi bagian dari perjalanan
untuk belajar disiplin, bertanggung jawab, bekerja sama, percaya diri, dan
berani mengambil peran. Semangat tersebut diharapkan terus tumbuh dan
menjadi bekal bagi mereka dalam menghadapi masa depan.
Karena SMK bukan hanya tentang
belajar untuk bekerja, tetapi juga tentang belajar untuk mandiri, berkarya,
berkontribusi, dan siap menghadapi dunia.